Friday, March 30, 2012

Made in Indonesia #4: Beautiful Black and White Series by Lemari Lila




I don't really remember when the first time I knew Lemari Lila.I still remember, however, my first strong sight when I saw the collections.Gorgeous!

Kebaya Stagen


Lila Imelda Sari, the owner, named it "Kebaya Stagen" since it combines the basic model of kebaya on top part and stagen style on the waist. Stagen is a kind of wide belt that made from wrapped long clothes, traditionally it's used by Javanese women to make their waist has better shape when they put kebaya. And Lemari Lila has combined it in a top! What a great idea!







Parang Baby Doll Dress

It's a dress as well as long top, whatever you want to name it!
It's made from soft paris cotton hand-stamped batik.

It's a chic dress, no wonders!


  

If you're interested on these collection, if you are in Indonesia contact Lemari Lila at http://www.facebook.com/lemari.lila?ref=ts. 
If you are in Italy or Europe, you can contact me on noviacici@gmail.com.


Be ethnic, be proud of made in Indonesia!

Sunday, March 18, 2012

Made in Indonesia #3: On the Go with Sew Stories

I knew Sew Stories for the first time on June 2011. And, I was one of Sew Stories clients for its first products. As usual, I'm a complicated buyer! Ahai! I asked so many revision from the original design: resize the clutch and add coin pocket for the travel-O wallet. 


Next, on August, I ordered a bag. A big size bag with lot of pockets. The long discussion with Imelda, the owner of Sew Stories, was started on August 2011. Starting with sending and tagging some sample of bags, the discussion was prolonged and prolonged with the choosing of fabrics, special request, etc. After the never end discussion, I got the first Gro-BAG, I guest, after the sample of course.

Julliane Clutch
First of all, I like the half-moon-like form and the combination between cotton or linen fabrics and synthetic leather. There are two size: medium (L=24 cm) and large (L=30 cm), but I wanted it between! Lucky me, at that time Imelda still had time to manage this 'special request', and finally it's realized on 27-28 cm long! Inside, Imel put two pockets: one pocket with zip for coins and one opened-pocket for cards. 


As I change bags often, this clutch is very very helpful. I put my important and daily needed personal things inside and I just need to replace the clutch every time I change my bag. Wolla! 










Travel-O Wallet
It is designed to keep passport and some more things such as ID cards, banking cards. At first time, I would like to use it for daily, so that I asked Imel to revise the design and put a coin pocket. Yes, she made it very well. I like the composition between red and brown color, between outside and inside fabrics. It's well done, trust me!
 


Gro-BAG

It's medium-to-big size (LxWxH = 38x30x20cm) with lot of pockets: two pockets in front, elastic pocket on left and right outside, other two elastic pockets on left and right inside, one big pocket and three little pockets inside. Gro-BAG comes along with two shoulder straps beside of the hand straps.








I adore this bag since it's voracious: you can put tons of things inside! My clutch, Kendra's diaper and clothes changing stuffs, snacks for Kaila, pocket camera, and some more things. Thanks for the designs which allow us to find the things easily. 



I'm happy that Sew Stories now is growing, not only bigger but also, more important in my opinion, more creative and rich of ideas.  The "longer and limited order list" is a consequence after that. Thanks for the new selling strategy by issuing ready stock collections. More people (read: women) adore the products. Lot of Sew Stories admirers keep their eyes on facebook wall to made them not miss the new ready stock items.


Well done, Sew Stories team! 

Thursday, March 1, 2012

Made in Indonesia #2: Talullah Belle feat Sew Stories



"... It's not always about ethnic style, it's more about made in Indonesia, made by Indonesian hands, by Indonesian women. ..."



Levina vintage style-dress by Talullah Belle
of Lila Imelda Sari













Levina dress feat Gro-BAG by Sew Stories








Made in Indonesia #1: Antul feat Naini Dsign & Moon Addict






I'm here, in Italy, in another part of world, far away from Indonesia.
My heart still there, anyway.
Once or twice a week I eat Indonesian food.
Once in every week I read Indonesian women magazine.
And ... almost everyday I put Indonesian outfit.











Yes, I proudly present
"made in Indonesia"



Kebaya Antul by Didi Kebaya Encim
Lining Natik Necklace by Naini Dsign
'Moon Addict' Keds Batik Shoes by Rembulan Indira

Wednesday, February 29, 2012

Diet Bayi: Sebuah Pembuka Obrolan

Sekilas tentang 'Diet'
Apakah kau termasuk orang yang mengaosiasikan kata 'diet' sekedar dengan mengurangi makanan atau menguruskan badan? Ehm, bisa jadi pemaknaan itu benar, tapi terlalu sempit, sebenarnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan (KBBI Daring), disebutkan 'di·et /diĆ©t/ n Dok aturan makanan khusus untuk kesehatan dsb (biasanya atas petunjuk dokter)' http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php. Sementara di Wikipedia, kata 'diet (nutrisi)' merujuk pada 'jumlah makanan yang dikonsumsi oleh manusia atau makhluk hidup lainnya. [lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Diet_(nutrition)]


Tapi ... bayi berdiet? Kenapa enggak? Harus, malah! Ketika para ibu hanya memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama, itulah diet! Dilanjutkan dengan Makanan Pendamping ASI (MPASI) melalui tahapan-tahapan sesuai perkembangan si bayi, itu juga diet. Jadi, gak perlu merasa aneh ketika mendengar frase 'diet bayi' ;)


Usia bayi 6 bulan bisa jadi usia penuh tantangan bagi para orangtua. Dilema "kepraktisan vs kesehatan" seringkali membentang di depan mata, belum lagi "modern vs tradisional", "lokal vs impor", "elit vs ndeso", hingga "mahal vs murah". Aku sendiri sih tidak terlalu suka mempertentangkan semua itu, karena bisa jadi setiap nilai di atas akan berlangsung berbeda pada situasi yang khas. Praktis bukan berarti tidak sehat; kalau kau ingin mengajak bayimu jalan-jalan ke gunung atau hutan seharian penuh, makanan bayi siap santap yang sehat tentu menjadi pilihan yang paling memungkinkan; praktis dan sehat bisa berjalan seiring tanpa harus dipertentangkan. 


Modern? Tradisional? Dilihat dari kacamata siapa dulu? Aku yang tinggal di Italia, keju adalah makanan lokal tradisional, yang di Indonesia menjadi makanan impor modern. Singkong, ubi jalar, buah mangga, pisang; di Indonesia menjadi makanan lokal yang sehat, di sini dia menjadi makanan impor yang harus dipastikan kualitasnya; bagaimana mereka dikirimkan melalui jasa pengiriman laut berminggu-minggu dan menjaga mereka tetap segar atau siap dimakan ketika sampai negara tujuan?




Selain bertanya dan berdiskusi dengan sesama orang tua beranak balita, aku juga suka menelusur artikel di internet dan membeli buku tentang MPASI dan menu untuk balita. Salah satu buku yang aku suka adalah Il Cucchiaino. Setelah membacanya, aku makin suka. Kenapa?


Pertama, buku ini ditulis oleh Miralda Colombo, seorang ibu muda, berdasar pengalamannya dengan anaknya yang berumur sekitar dua tahun. Dia memadukan resep tradisional warisan nenek dan ibunya, anjuran pediatra dan ahli gizi, hasil jelajahnya dari artikel/buku italia dan internasional, serta--ini yang paling penting menurutku--hasil eksplorasi dia dengan anaknya. Di sini, ia mencoba memberikan jawaban bahwa cara-cara tradisional tak harus dipertentangkan dengan yang modern.





Ada beberapa hal menarik yang aku temukan dalam buku ini.
Pertama, ia tidak hanya memuat resep untuk si bayi, tapi juga beberapa resep untuk anggota keluarga lain berbasis bahan dasar yang sama untuk makanan si bayi. Cara ini sangat membantu bagi ayah atau ibu yang tidak punya banyak waktu dan bisa menghemat belanja juga tentunya ;)
Kedua, falsafah dia tentang bahan yang dipilih untuk menyiapkan MPASI.
"Penting untuk mengenalkan berbagai makanan kepada si anak, termasuk dari belahan dunia lain, tapi yang lebih penting adalah mengutamakan bahan yang segar dan sesuai dengan musimnya."
Ini artinya, utamakan produk lokal, sesuai musim (untuk menghindari makanan yang diawetkan secara tidka alami), dan kalau bisa organik. 


Para Ayah, Ibu, ini sekelumit cerita pembukaku tentang makanan untuk bayi dan anak, juga untuk kita :) Kamu punya cerita apa?

Tuesday, February 28, 2012

Rumah Sakit Inklusif: Sekelumit Cerita tentang RS "Cristo Re di Roma"

[catatan: tulisan ini untuk pertama kalinya dipasang di akun facebook pada 16 Juni 2011]

Tak terhindarkan, akhirnya aku harus istirahat di rumah sakit. Istirahat di rumah selama 4 hari ternyata tak cukup. Kontraksi tak mereda, pendarahan malah terjadi.

Rabu sore adalah hari kontrol rutin. Vittori, ginekologku yang pintar dan baik itu, menunjukkan wajah kurang senang ketika kubilang perutku kram dan sejak Rabu pagi itu ada flek kecoklatan di celana dalamku. "Ehm ... non dovrebbe succedere! (seharusnya tidak boleh terjadi!)" ujarnya dgn gaya bicaranya yang khas, lembut tapi tegas. Setelah memastikan kondisiku sore itu, dia langsung berkata, "Anda harus tinggal di sini untuk pemulihan!" Segera dia menelepon bagian rawat inap ginekologia, bidan yg bertugas, dan pediatra. Terakhir, dia kontak bagian UGD untuk bersiap-siap memproses masuknya aku ke RS Cristo Re di Roma ini, di mana Vittori berpraktik setiap Rabu sore.

Mengapa Cristo Re di Roma?



Raja Kristus Roma, demikian kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia, sebuah rumah sakit Katolik yang kemudian menjadi rumah sakit publik. Cristo Re termasuk rumah sakit kecil, bahkan mungkin lebih kecil dari RS Panti Rapih atau Bethesda di Yogya yg mengharuskan staf atau dokter2nya bersepeda utk mencapai zona lain di rumah sakit itu.Kami memang memilih rumah sakit ini utk melahirkan nanti atas rekomendasi beberapa ibu teman sekolah Kaila, juga hasil observasi kami setelah beberapa bulan melakukan kontrol kehamilan dengan Vittori di sini. Dekat dari rumah, kecil, bersih, birokrasi sederhana; empat hal yg kami suka, selain karena Vittori berpraktik di sini.

Pelayanan yang bagus, staf yang ramah
Kami hanya menunggu 10 menit di ruang tunggu UGD sampai ada staf medis yang memanggilku untuk masuk mengisi data dan melakukan beberapa pemeriksaan lanjutan. Cukup waktu untuk diskusi dengan Luca tentang apa yang harus kami lakukan malam ini, sambil ia menelepon orang tuanya untuk datang membantu menemani Kaila selama aku di rumah sakit nanti. 

Pengisian data dibantu seorang biarawati. Ketika data administratif siap, seorang staf medis melengkapi data medisnya dan membawaku ke ruangan lain dimana seorang ginekolog perempuan yang berjaga hari itu sudah menungguku. Ginekolog ini menjelaskan beberapa pemeriksaan yang harus aku jalani. 

Pertama, ia melakukan pemeriksaan vaginal untuk memastikan bercak darah yang keluar. Kedua, ia memasang alat monitor kontraksi yang berfungsi juga memeriksa detak jantung dan gerak bayi. Dari data yg tercetak, kami lihat 4-5 kontraksi yg cukup kuat (40-50%) selama 30 menit. Dia langsung menelepon bagian USG dan mengirimku ke sana. Pada seorang staf UGD dia berpesan agar membawaku ke lantai 1 dgn kursi roda, meski sebenarnya aku masih kuat jalan. "Untuk mengurangi kelelahan," kata si Bu Dokter. Melihatku di atas kursi roda, Kaila tak bisa lagi menyembunyikan rasa ingin tahu & wajah kuatirnya. Aku, Luca, dan staf UGD menjelaskan padanya secara bergantian. Ujung-ujungnya, "Aku juga mau pake kursi roda, Papa dorong yang kencang ya!" katanya :)

Hasil USG bagus, tak ada masalah. Aku dibawa lagi ke lantai dasar, ke UGD, untuk diambil darah. Kali ini agak kurang menyenangkan. Yang memasang jarum permanen untuk mengambil darah, dan nantinya untuk memasang infus juga, adalah perawat baru yang masih belajar. Tusukan yang kurang pas membuat banyak darah keluar sebelum dipasang tabung-tabung kecil sampel darah. Akhirnya si staf senior UGD membantu dan menjelaskan bahwa si perawat adalah baru. Setelah sekian mililiter darahku diambil, aku langsung dikamarkan di kamar kelas 2 dgn 3 tempat tidur. Ini layanan yang ditanggung askes publik. Jika ingin kamar tunggal, maka kita hrs membayar biaya kamar.


Inklusif: multietnis, agama dan tempat yang ramah difabel
Satu hal lain yg aku suka dari RS ini adalah inklusivitas-nya. Inklusif dalam arti terbuka dan setara bagi berbagai kelompok di masyarakat.
Di ruang tunggu praktik dokter, akan kita temui seorang bapak setengah baya yang bekerja sebagai penerima pasien. Setelah 2-3 kali kunjungan, aku baru tahu kalau dia memiliki kaki yang "unik", mungkin karena polio atau kecelakaan. Di UGD, si staf medis senior yg membantuku juga bukan italiano asli, dan staf medis lainnya tampak menghargai kemampuan dia yang bekerja baik dan cekatan.

Di ruang tunggu USG, kita bisa temui seorang perempuan india sebagai penerima pasien merangkap perawat. Juga pagi ini, dokter kontrol ditemani seorang perawat perempuan india lainnya. Dari dalam kamarku, sekilas aku jg melihat seorang dokter berkerudung, yang bisa hampir dipastikan 99% dia muslim.

Pelayanan juga tak berkurang ramahnya setelah mereka tahu aku muslim, setelah seorang pastor mendatangiku pagi ini untuk mendoakanku dan ingin memberi rosario. "Aku akan tetap berdoa utkmu dan kau berdoalah dgn caramu," katanya lembut.
Inklusivitas di sini juga ditunjukkan dengan adanya layanan khusus untuk imigran yang tidak bisa berbahasa italia dengan lancar. Mereka akan menghubungi Kantor Mediasi Kultural untuk mengirimkan seseorang yang bisa membantu di sini.

Keindahan yang bisa dilihat dibalik tantangan .... 

Roma, 16 Juni 2011

Etalase: Mengenalkan Produk Indonesia dan Mereka yang Ada di Belakangnya; Catatan Umum dari “Bazar Indonesiano” KBRI Roma 09.06.2011


[catatan: tulisan ini untuk pertama kalinya dipasang di akun facebook tanggal 12 Juni 2011

Ide Terpendam vs Peluang
Sejak pindah ke Roma, aku mencoba bertanya ke beberapa staf KBRI tentang berbagai aktivitas di sana yang memungkinkan aku dan Kaila, dan juga Luca, untuk berinteraksi lebih sering dengan masyarakat Indonesia di Roma atau sekitarnya. Sejak berkenalan dengan beberapa teman muda yang kreatif dan aktif menghasilkan karya-karya cantik dan unik, aku bertekad untuk membawa produk mereka ke Italia. Jujur, aku tidak punya pengalaman sama-sekali dalam hal jual-menjual alias berdagang a.k.a bisnis. Ditambah kompleksitas perijinan dan perpajakan di Italia, terjadi tarik-menarik dalam diriku kapan akan mulai melangkah dengan rencanaku ini.

Aku mendapat kabar tentang adanya bazar 2011 ini dari seorang teman yang merupakan istri salah stau staf KBRI Roma, tepatnya 7 minggu sebelum hari H. Antusias dan keraguan berkelebat; antusias karena aku merasa, “Ya, inilah momennya!”, sementara keraguan muncul ketika aku merasa tidak cukup tahu selera mode orang Italia terhadap produk oriental. Melihat setumpuk koleksi yang demikian beragam dan belum terpakai, karena sebagian besar datang di musim gugu dan dingin tahun lalu yang tidak memungkinkan aku mengenakannya, aku malah melihat peluang di sisi lain.

Menjajagi pasar. Ya, aku ingin melakukan penjajagan pasar; melihat selera orang Italia—juga masyarakat Indonesia di Italia dan mengkaji daya beli atau keinginan beli mereka terhadap produk-produk Indonesia. Aku menyebut keinginan beliberkait dengan berapa besaran euro yang mau mereka keluarkan untuk membeli produk-produk Indonesia berdasarkanpengetahuan dan penghargaan mereka pada produk itu. Pengetahuan atas produk menurutku penting, karena aku memiliki persepsi bahwa batik atau produk etnik Indonesia lainnya kurang dikenal di Italia. Kalaupun ada beberapa pameran batik atau kain tradisional lainnya di Italia biasanya dilakukan oleh para disainer batik kelas atas semacam Biyan atau Ghea Panggabean dengan bahan batik tulis yang harganya jutaan, yang diadakan di hotel berbintang atau gedung pertunjukan untuk warga elit, dan acaranya dibuat untuk undangan eksklusif. Melalui promosi macam ini, bagaimana batik akan dikenal masyarakat umum Italia?

Penghargaan terhadap produk juga salah satu hal yang menjadi perhatianku. Serbuan barang impor dari Cina yang diproduk secara masal dengan mesin pabrik dan dijual dengan harga yang sangat murah, membuat orang Italia membangun citra bahwa produk oriental—Cina, India, Indonesia, Thailand, “Ya, segitu deh harga produk oriental!” Mereka memukul rata antara produk yang diproduksi masal di pabrik dengan yang dihasilkan tangan-tangan kreatif yang terus menggali ide dan memperkaya produknya. Fiuh…kerja keras untuk mengenalkan batik dank ain tradisional Indonesia lainnya telah terbayang-bayang di mata … (*nyanyikan dengan nada dangdut ya, bacanya!)

Ambil bagian dengan sekian motivasi
Akhirnya, aku memutuskan ambil bagian dalam bazaar ini. Katakanlah iseng-iseng berhadiah tapi dengan persiapan serius :D, ditambah bayangan banyaknya makanan Indonesia yang akan dijual di sana, semakin menguatkan tekadku untuk ikut bergabung. Aiya ya ya ya … Langkah pertama, aku mengecek koleksiku. Ketika mudik  Paskah di akhir April, aku memeriksa koleksi yang ada, yang belum terpakai dan layak jual, dan aku rela menjualnya (*karena ada beberapa koleksi yang sebenarnya layak sekali untuk dijual, tapi aku juga demikian menyukainya—dilema bakul mode on :D). Semua koleksi yang akan dijual ini aku angkut ke Roma. Selain itu, selama di Larino—kampung halaman Luca, aku mengobrol dengan adik-adik Luca yang memiliki toko perhiasan; bagaimana mereka menentukan harga, pandangan mereka tentang selera dan keinginan beli orang Italia atas produk oriental, dan beberapa isu teknis lainnya.

Hal ketiga yang aku lakukan adalah mencoba mencari informasi harga batik di Roma, di seputaran orang-orang KBRI. Lagi-lagi, teman istri staf KBRI Roma yang menjadi sumber informasiku. Menurutnya, mereka biasanya membandingkan harga batik yang dijual di Roma dengan produk-produk H&M yang merupakan produk masal dengan harga yang terjangkau oleh kelas menengah-bawah. Duh … firasatku jadi kurang baik, sungguh. Banyak pertanyaan yang kemudian berkelebat di kepala, khusus tentang seputaran orang-orang KBRI atau masyarakat Indonesia yang ada di Roma; apakah mereka mengikuti perkembangan terkini menyangkut batik dan kain tradisional di Indonesia? Tren mode yang semakin beragam sehingga kadang harga pakaian jadi berbahan batik atau kain tradisional lainnya menjadi mahal karena memang modelnya yang unik atau baru. Permintaan pasar yang meningkat, hingga harga kain atau pakaian batik-pun meningkat tajam. Harga bahan yang juga melonjak membuat para pengrajin batik dna kain tradisional “terpaksa” menaikkan harga jual produk mereka. Apakah mereka mengikuti semua ini dari negeri Pizza ini?

Mengapa Etalase Nusantara?



Oleh karena aku tidak mau sekedar menjadi penjual, maka aku mencoba merumuskan konsep dasar projek-ku ini. Ya, projek, demikian aku menyebutnya. Yang pertama kali melesat kuat di kepalaku adalah ‘mengenalkan teman-teman muda yang berbakat dan penuh dedikasi itu ke masyarakat Italia dan sekitarnya, bukannya sekedar menampilkan produknya menjadi produk tanpa nama’. Kasarnya, bisa jadi orang akan mengenalku sebagai makelar produk, tak apa. Aku akan lebih senang jika kemudian mereka mengenal Nur Aini sebagai artisnya Naini Designn, atau Idha Jacinta dan Vegi Handayani sebagai perempuan-perempuan cantik dan kreatif di belakang Batik Centil, Lila Imelda Sari sebagai disainer produk Lemari Lila, atau Claudyna S. Sasono sebagai perempuan hebat di belakang Sasono Butik yang menggagas sekian usaha untuk mengayakan batik Semarangan dan memberdayakan perempuan di sekitarnya di saat yang sama.


Konsep ‘etalase’ menjadi pilihanku. Etalase yang ‘memajang produk tanpa mengubah label produsen/artis/pengrajin aslinya’, demikian aku mendefinisikannya. Layaknya sebuah toko, (semoga) nantinya orang-orang di Italia dan sekitarnya akan datang padaku, ke ‘toko’-ku, ‘etalase’-ku ketika mereka membutuhkan atau ingin membeli produk Naini Designn, Batik Centil, Lemari Lila, Sasono Butik, Sogan Batik Rejodani dari Indonesia. Amin!

Cantik! Tapi ….
Mengamati dan Merekam Respon Para Pengunjung
Rasanya senang ketika pengunjung singgah dan mengamati lebih dekat produk atau karya yang kita pajang di meja atau kapstok. Lebih-lebih jika mereka banyak bertanya. Syukur-syukur jika kemudian mereka memutuskan membeli. Secara sejak awal aku memutuskan bazar ini sebagai media penjajagan pasar, maka aku tidak menaruh ekspektasi tinggi atas penjualan yang tinggi. Karena itu, aku tidak terlalu khawatir ketika di satu jam pertama kebanyakan pengunjung hanya lewat dan tersenyum, hanya sebagian kecil yang singgah, memegang-megang beberapa aksesoris di meja.

Di jam-jam berikutnya, aksesoris dan baju anak-anak yang paling banyak terjual. Aksesoris terjual lebih dari 60 persen dan baju anak-anak hampir 50 persennya … lumayan kan untuk pengalaman pertama? Beberapa di antara mereka tampaknya jatuh cinta pada pandangan pertama pada aksesoris Naini Designn dan Neng Genit a.k.a Batik Centil-nya Idha dan Egi yang memang unik. Sebagian yang lain bisa jadi mereka membuktikan bahwa aksesoris koleksi Et-Nusa yang paling unik dan menarik, setelah mereka berkeliling dan kembali lagi ke meja kami untuk membelinya. Untuk baju anak, aku menyadari bahwa Et-Nusa satu-satunya yang menjual baju anak di bazar ini; aku baru tahu ketika ada waktu untuk berjalan-jalan melihat-lihat stand yang lain.

“Seorang ibu Italia datang melihat-lihat koleksi baju. Dari kebaya yang ia kenakan, aku bisa mengenali dia adalah salah satu anggota tim gamelan dari Vatikan. Ia bertanya kalau-kalau aku punya koleksi untuk anak laki-laki berusia 4-5 tahun. Dengan sangat menyesal aku mengatakan aku tidak punya. Ia tidak menyerah, ia memilah-milah sendiri koleksi baju anak yang aku punya. Ia berhenti ketika menemukan sebuah atasan model kimono warna coklat muda dengan sebuah pita serut di bagian pinggang. Ia amati lama-lama. Lalu ia memanggil anaknya. Ia cobakan, dan, “Bagus!” katanya. Ehm … boleh juga ternyata. Baru menyadari bahwa atasan kimono anak itu bisa jadi model uniseks, he3. Aku pun mengusulkan melepas tali serutnya, yang seharusnya ditalikan membentuk pita, untuk menghilangkan kesan feminin. Ia setuju dan membayarnya. ….
Tak berapa lama, ia kembali bersama anak perempuannya yang berusia sekitar 10-11 tahun. Mereka menemukan satu dress dengan aksen silang di dada untuk dicobakan. Sayang terlalu ketat di dada. Ia menjelajah lagi koleksiku. Aku menawarkan blus baby doll; anaknya suka karena modelnya yang lucu, ibunya kurang sreg dengan warnanya. Akhirnya mereka tak jadi mengambil keduanya. Beberapa waktu setelah itu, si Ibu masih saja bolak-balik ke stand Et-Nusa, mungkin sampai 4-5 kali, membolak-balik lagi koleksi baju, berlalu, dan kembali lagi. Hahahaha ternyata ia masih penasaran. Meski pada akhirnya ia tidak jadi membeli baju untuk anaknya, paling tidak koleksi Et-Nusa telah membuatnya penasaran. Aiya ya ya ya !”

Menjual baju dewasa tampaknya menjadi kompleksitas tersendiri. Ukuran dan harga menjadi isu yang paling keras muncul. Koleksi yang unik (satu model, satu warna, satu ukuran) pada titik tertentu menyulitkan calon pembeli untuk mendapatkan baju yang pas. Beberapa pengunjung misalnya, suka dengan koleksi Lemari Lila; yang satu suka yang warna hijau pupus, tapi sayang terlalu besar, aku tawarkan warna lain ia tidak mau karena ia suka warna hijaunya yang segar; sementara yang lainnya suka dengan warna lain tapi sayang ia tidak suka dengan lengan bajunya yang panjang. Belum lagi soal harga. Aku sedikit membuktikan dugaanku mengenai tingkat penghargaan orang Italia—paling tidak pengunjung stand Et-Nusa, kalau tidak mau melakukan generalisasi—bahwa mereka memiliki asumsi di kepala mereka kalau produk-produk oriental itu harganya, “Ya, segitu deh!” yang dibandingkan dengan harga produk massal Cina. Mereka tampak berpikir ulang ketika harus mengeluarkan euro lebih dari 20 atau 30 keping satuan untuk membayar baju oriental.

Bagi orang Indonesia sendiri, beberapa juga ragu membeli karena melihat harga yang bisa jadi memang dua kali lipat dibandingkan harga di Indonesia. Beberapa paham mengapa harganya bisa mencapai segitu, yang kemudian tak menghalangi mereka untuk membeli barang yang mereka suka atau butuhkan. Yang menarik, bagi beberapa orang Indonesia sendiri, kain tradisional Indonesia masih identik dengan batik …. Ketika aku menawarkan sepasang baju lurik buatan Sogan Batik Rejodani, mereka menjawab, “Ehm … saya lebih suka batik, lebih Indonesia!” Aiya ya ya ya …. Ingin rasanya aku bertanya balik, “Maaf, Indonesia bagian mana ya, Pak, Bu?”

Ini menjadi pe-er di masa depan, tentu saja, mengenalkan lebih baik produk kain Indonesia, tak hanya batik. Membukakan mata dunia bahwa produk tradisional adalah kekayaan budaya yang pada derajat tertentu tidak bisa dibandingkan dengan produk massal dari pabrik-pabrik bermesin teknologi tinggi—tentunya tanpa mengabaikan kenyataan bahwa pabrik-pabrik itu juga menjadi penopang ekonomi rakyat, sumber penghidupan rakyat kecil yang juga bekerja keras untuk mengoperasikan mesin-mesin itu.

Untuk mengakhiri, tapi semoga bukan yang terakhir (aiya, pidato banget :D), aku bersyukur atas kesempatan ini, kesempatan untuk belajar banyak hal, terutama mengenai dunia perbakulan dan fenomena sosial dibalik tren mode dan belanja di Italia, baik orang Italia maupun masyarakat Indonesia di sini. Terima kasih untuk semua artis, pengrajin, produsen batik yang telah mempersembahkan produk-produk terbaik mereka untuk ditampilkan Et-Nusa. Dan terima kasih yang dalam untuk Alia Swastika yang datang ke Roma di momen yang tepat, untuk dititipi beberapa barang, ikut menarik koper, menginstall kapstok, melayani pembeli dalam bahasa Inggris, dan menghibur Kaila supaya tidak bosan. Juga keluarga Evi Nurcahyani, yang meskipun tidak datang khusus untuk kami, tapi telah membantu “momong” Kaila sepanjang acara bazar dan membuatnya menjadi anak yang demikian menikmati acara di “Rumah Indonesia”.